Oleh: muchrosidi | 23 Februari 2009

Membeli Bebek di Pasar Kebayoran

Di mana tempat membeli bebek/itik di Jakarta Selatan? Ternyata kolong fly over pasar Kebayoran Lama merupakan salah satu jawabannya.

Kami memang pencinta masakan bebek. Hanya karena masalah penghematan saja keinginan untuk bisa menikmati sajian dari unggas ini harus direm. Makanya ketika jalan-jalan ke Depok, kami sempatkan untuk mampir di kedai Tik Tok Margonda. Setidaknya sudah dua kali kami ke sana menikmati masakan bebek sambal ijonya yang hmmm….pedaaaasss… Apalagi Aufa lebih menyukainya dibandingkan ayam.

Nah pada pameran buku yang lalu (kalau nggak salah Kompas Gramedia Fair) di Istora, kami mendapati buku masakan berbahan bebek. Kebetulan, pikir saya…selain bisa coba-coba, sekalian bisa makan enak sambil berhemat.

Tapi masalahnya, di mana untuk mendapatkan bebeknya? Selama berminggu-minggu keinginan itu tinggal keinginan, karena unggas yang kebanyakan dijual hidup-hidup di pasar adalah ayam pedaging atau ayam petelur afkir, begitu juga di pinggir jalan, paling banter juga ayam kampung. Kelihatannya susah benar nyari hewan yang satu ini.

Tapi akhirnya…setelah bertanya pada abang yang jualan ayam pedaging hidup di pasar kebayoran lama, kami dikasih tahu kalau tempat penjualan bebek ada di bawah jembatan layang kebayoran lama. Tapi hanya pagi jualannya, jangan sore karena sudah tutup kata si abang tadi menambahkan.

Benar juga, ketika Sabtu lalu kami ke sana, ternyata tidak hanya bebek yang dijual. Ada ayam kampung, mentok (itik manila), burung, malah kelinci juga ada kayaknya.

Waktu itu proses belinya tidak pake tawar menawar (karena ditawar abangnya nggak mau). Si abang ngasih harga 33 ribu untuk seekor bebek, tinggal pilih. Untuk mentok 35 sampai 40 ribu seekor. Kebetulan sebelumnya kami sempat bisik-bisik sama mbak-mbak yang juga lagi beli, sepertinya sih jualan masakan bebek karena belinya beberapa ekor dan lansung dipotong di tempat. Katanya dia biasa beli 35 ribu seekor. Kayaknya ini harga untuk terima bersih, sudah disembelih, dibersihkan dan dipotong-potong, tinggal memasak.

Dengan berbagai pertimbangan, kami memilih membeli hidup-hidup. Setelah sampai rumah, barulah bebek saya sembelih dan dimasak.

Dan ternyata….hmmm…rasanya tak kalah enak dengan masakan di pinggir-pinggir jalan. Tidak sia-sia perjuangan kami untuk menikmati santapan bebek. Mulai dari membeli buku, berburu tempat jualan bebek hidup, menyembeleh, mencabuti bulunya sampai terakhir menghidangkannya di atas piring.

About these ads

Responses

  1. salam knal ,
    mas sy mo masarin itik mentok dewasa, sy buka harga /ekor, Rp. 30rb. apa berminat???

    • Salam kenal juga. Tapi gak salah ni, saya beli itik juga sekali-sekali…, itu pun paling seekor….

  2. Mas salam kenal…
    tertarik ni ama hasil tulisannya.
    Waduh, saya asal Kab. Sukabumi, rencana mau beternak “mentok”, atau “manila”, kira2 ada pasar yang bisa menampung dimana ya di Jabodetabek?
    makasih Infonya…

    • Bagus sekali… sayang saya gak tau info pasar seperti yang Anda maksud. Coba hubungi majalah-majalah pertanian/peternakan, seperti Trubus, barangkali mereka tau…

  3. wahaha, pingin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: