Jangan Lupa Pesan Menu Halal di Penerbangan International

Bagi sebagian orang, melakukan perjalanan ke luar negeri bisa jadi merupakan pengalaman baru dan tentu saja bingung dengan segala pernak-pernik persiapannya. Soal makanan di pesawat salah satunya, meskipun barangkali yang bersangkutan sudah biasa dengan situasi penerbangan domestik. Di penerbangan domestik, tentu saja kita tidak perlu kuatir dengan hidangan yang tersedia (bagi yang naik Garuda ya…, kan yang lain sudah tidak ada lagi yang namanya makanan gratis, di kelas ekonomi). Bagi yang kebetulan bepergian ke luar negeri dan memakai maskapai asing, cobalah perhatikan menu yang disediakan selama penerbangan. Saat ini hampir bisa dipastikan tiap maskapai punya laman yang bisa diakses sampai ke menu sajian sekalipun.

Salah satu menu muslim meal .

Itulah yang saya lakukan dalam perjalanan dari Jakarta ke Detroit dengan maskapai All Nippon Airways tiga hari setelah lebaran yang lalu. Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya cari info-info seputar penerbangan internasional. Maklum penerbangan ini adalah perjalanan  ke luar Indonesia pertama bagi saya. Untungnya, waktu membuka menu yang bakal di sajikan dalam perjalanan kali ini, di jalur Tokyo-Chicago (ada tiga flight di penerbangan ini, Jakarta-Tokyo, Tokyo-Chicago, dan Chicago-Detroit), ternyata salah satu menunya adalah bacon (identik dengan babi). Kontan saya bingung, mau pasrah tapi takut kelaparan di pesawat, eh ternyata setelah browsing lebih lanjut, mereka menyediakan beragan menu spesial yang bisa dipesan, mulai menu untuk vegetarian sampai menu untuk alasan keagamaan, dan itu bisa dipesan dengan deadline yang berbeda-beda sebelum jadwal keberangkatan kita. Soal minta menu ini, jangan kuatir, bukan hanya kita saja yang punya keyakinan/pantangan tertentu terhadap makanan, karena agama lain seperti Yahudi atau Hindu pun juga punya, termasuk yang bukan karena alasan keyakinan, seperti kaum vegetarian contohnya. Yang penting kita berani ngomong sebelumnya. Ingat, itu adalah hak kita sebagai konsumen dan juga harus digarisbawahi bahwa kita sudah membayar mahal untuk memakai jasa mereka. Jadi, wajarlah kalau kita menghendaki kenyamanan dan ketenangan selama perjalanan, baik fisik maupun psikis. Paling tidak, ketika kita menyantap hidangannya, kita bisa berprasangka baik karena makanan yang disajikan ada tulisan halalnya.

Logo halal di secarik kertas di dalam menu.

Customer service yang menanggapi telepon saya waktu itu mengiyakan permintaan saya untuk mendaftarkan saya pada muslim meal untuk penerbangan setelah mendarat di Jepang, seraya meyakinkan bahwa untuk penerbangan dari Jakarta ke Tokyo biasanya makanannya tidak aneh-aneh.

Jadilah saya didaftarkan pada menu muslim meal 24 jam kurang sedikit dari jadwal penerbangan dari Narita, Tokyo itu. Terus terang waktu itu deg-dengan juga kalau-kalau tidak disetujui mengingat aturannya kita boleh mengajukan menu spesial ini minimal 24 jam sebelum jadwal keberangkatan. Dia hanya mengisyaratkan sekedar berusaha mendaftarkan di sistem, keputusan finalnya dia tidak tahu karena toh sudah lewat dari syarat jeda minimalnya. Tidak masalah, pikirku, daripada tidak mencoba sama sekali. Maka, pelajaran yang dapat diambil di sini, periksalah aturan seperti ini di laman maskapai Anda untuk antisipasi.

Baru lega rasanya ketika beberapa saat sebelum jadwal makan pertama selepas tingal landas dari Narita International Airport, Tokyo, seorang pramugari mengonfirmasi apakah saya memesan muslim meal, dan setelah saya mengiyakan, sejurus kemudian sebuah stiker kecil dia tempelkan pas di sandaran kursi belakang kepala saya supaya nanti ketika ada yang mengantar hidangan tidak tertukar.

Jadilah sepanjang perjalanan itu, saya dan beberapa orang di deretan depan, mendapatkan makanan dalam kemasan yang berbeda dari kebanyakan penumpang lainnya. Selain jenis masakannya berbeda, di dalamnya juga ada selembar kertas bertuliskan logo halal dan nama perusahaan penyedianya. Sepertinya, katering untuk menu ini memang disajikan oleh perusahaan katering yang berbeda atau oleh perusahaan katering yang sama tapi disertifikasi oleh perusahaan/organisasi lain. Hikmahnya adalah, ternyata sajiannya betul-betul nikmat dan masuk di lidah saya. Di salah satu menu ada sajian daging kambing, yang kebetulan merupakan menu kesukaan saya.

Saya tidak tahu dimasak apa, tapi yang jelas aroma khas kambingnya terasa sekali dan mak nyus…. Menyesal kenapa kemarin tidak saya paksa saja supaya mbak di perwakilan maskapai di Jakarta sana mendaftarkan saya pada menu ini mulai dari tinggal landas di bandara internasional Sukarno-Hatta saja. Toh saya juga kecewa pada saus masakan Jepang di flight pertama yang tidak saya campurkan karena mengandung alkohol di komposisinya. Juga, saya sempat kaget bin deg-dengan dengan sebungkus kecil saus, yang kebetulan minim penjelasan di bungkusnya, yang ketika dirasakan saya curiga jangan-jangan itu bukan sebangsa makanan karena rasanya yang sangat kuat (sengar, bahasa Jawanya). Sampai-sampai karena kuatnya rasa, saya khawatir ada apa-apa dengan lidah dan kerongkongan saya. Berikut saya lampirkan foto bungkus saus itu siapa tahu ada yang bisa menjelaskan apa dan bagaimananya barang kecil itu kok ya bisa ada di golongan makanan. Opppsss…. maaf karena saya tidak mengira ada yang bakal menyukainya. heheheh….

Saus di menu Jepang yang rasanya aneh bagi saya.

Jadi kesimpulannya adalah, jangan lupa, kalau kebetulan bepergian dengan maskapai penerbangan internasioanal, teliti makanan yang akan disajikan sebelum terbang (bisa jadi kalau Anda terbang dengan maskapai milik negara-negara Islam, Anda tidak perlu kuatir dengan menu makanannya, semoga, tapi tidak ada salahnya juga untuk konfirmasi). Terakhir, kalau ternyata ada menu yang jelas-jelas “berbahaya” atau meragukan, jangan lupa untuk memesan menu untuk muslim, serta antisipasi kapan batas terakhir untuk pemesanannya.

Iklan

, , , , , , ,

3 Komentar

Motor: Kenapa Menjadi Favorit di Jakarta

Ini cerita untuk pertama kalinya aku harus pulang dari kantor naik KRL.

Ceritanya, hari itu adalah hari pertama masuk kantor setelah liburan bersama lebaran kemarin. Terpaksa sore itu aku tidak bisa naik motor seperti biasanya. Tentu saja, karena pagi tadi kan dari stasiun Gambir langsung ke kantor. Malas ke rumah dulu meskipun waktu subuh masih lama dan masih cukup waktu untuk pulang ke rumah. Perlu jalan kira-kira lima puluh kilometer bolak-balik dari stasiun ke rumah kemudian balik lagi ke kantor. Padahal, seperti pagi tadi, mungkin tak lebih dari tiga kilometer dari stasiun ke kantor. Itu pun karena jalannya muter-muter.

Sebenarnya ada dua moda transportasi yang bisa aku pilih: bus dan kereta api. Untuk hari biasa, tentu bus kota adalah alternatif kedua. Bisa dipastikan waktu tempuh akan menjadi sangat lama karena harus bermacet-macet ria di jalan. Untuk hari itu sebenarnya tidak ada masalah, Jakarta masih relatif sepi, karena sepertinya pegawai-pegawai swasta masih belum selesai cuti bersamanya. Akhirnya aku putuskan untuk naik kereta dari Tanah Abang.

Perjalanan dimulai dari halte busway Pecenongan. Setelah berganti bus di Harmoni, aku turun di halte BI, dilanjutkan dengan bus kota sampai ke perempatan Jatibaru. Aku dan orang-orang yang mau ke stasiun harus turun sebelum bus naik ke fly over sehabis perempatan itu. Jadilah kita harus berjalan kaki. Hitung-hitung olahraga, apalagi kita memang harus berjalan cepat supaya tidak ketinggalan kereta.

Sesampai di stasiun aku langsung naik ke lantai dua (karena stasiunnya memang di atas) untuk membeli tiket KRL express yang sebentar lagi akan berangkat. Tak lama setelah turun ke peron, kereta yang akan membawaku pulang datang juga. Benar dugaanku, Jakarta memang belum begitu ramai. Di stasiun, di kereta, belum begitu banyak manusia, paling tidak kalau aku bandingkan dengan pengalamanku waktu masih CPNS dan setia menjadi roker (rombongan kereta) di rute yang sama sekitar tahun 2001-2002 selepas lulus dari kampus waktu itu, meskipun kali ini aku juga harus berdiri. Tak apalah, toh perjalanan ke stasiun Pondok Ranji juga hanya melewati dua stasiun: Palmerah dan Kebayoran.

Sepertinya sholat maghrib baru saja usai begitu kereta tiba di Pondok Ranji. Perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki 300-an meter sampai ke perempatan Bintaro Plaza, sekali lagi hitung-hitung olah raga (atau ngirit). Dari situ aku naik angkot sampai ke sektor 6 (Bintaro Jaya). Turun dari angkot, sebenarnya rumah tinggal kira-kira 300-400 meter, tapi karena capek dan ingin cepat sampai, jadilah aku naik ojek, padahal di rumah juga sendirian, karena keluarga masih di kampung.

Mari kita berhitung berapa biaya yang diperlukan untuk perjalanan tadi. Busway tiga ribu lima ratus, bus kota dua ribu, KRL express delapan ribu, angkot dua ribu, terakhir ojek tiga ribu. Total delapan belas ribu lima ratus rupiah. Kalau kita anggap jalan pulang-perginya sama maka ongkos pergi pulang ke kantor menjadi tiga puluh tujuh ribu rupiah satu hari. Padahal biasanya kalau naik motor, rata-rata dua hari sekali hanya mengisi bensin senilai tak lebih dari empat belas ribu rupiah. Berarti sehari rata-rata butuh ongkos tujuh ribu rupiah. Kalau dinaiki dua orang berarti sehari hanya butuh tiga ribu lima ratus rupiah . Bandingkan dengan perhitungan naik kereta tadi, tiga puluh tujuh ribu rupiah, tentu jauh sekali dengan ongkos naik motor yang hanya tiga ribu lima ratus rupiah seorang.

Sengaja aku tidak masukkan ongkos-ongkos yang harus dikeluarkan untuk membiayai kepemilikan motor: ongkos servis, penggantian spare part, dan lain-lain, apalagi penyusutan (!!!). Ini semata-mata untuk mempermudah perhitungan. Bukankah secara psikologis kita juga akan merasakan dampak langsung hanya dari pengeluaran yang sifatnya harian?

Ternyata pengalaman sekali ini memang membawa hikmah yang besar sekali. Aku menjadi mudah memahami mengapa katanya pertumbuhan motor di Jakarta mencapai 300 persen setahun, dan akan menimbulkan kesemrawutan di Jakarta kalau dibiarkan.

Logis dan masuk akal kalau kecenderungan ini akan terus meningkat selama kebijakan transportasi di Jabodetabek tidak dibenahi besar-besaran. Tidak hanya soal ongkos yang sangat jauh lebih murah, baik harga belinya (ingat dengan hanya berapa ratus ribu kita bisa membawa motor keluaran terbaru dari dealer) maupun ongkos operasionalnya (lihat perhitungan tadi), orang lebih memilih naik motor juga karena alasan-alasan mendasar lain.

Pernahkah Anda merasakan sangat dongkol karena angkutan umum, yang biasanya melaju dengan ugal-ugalan, melaju dengan sangat pelan karena penumpang sepi, bahkan mungkin lebih cepat jika kita jalan kaki. Giliran penumpang ramai, sama saja, jalanan juga macet. Dengan kondisi ini sangat sulit bagi kita untuk mengatur waktu. Bayangkan, jika kita memakai motor, kita bisa lebih memperkirakan waktu tempuh karena manajemen waktu ada di tangan kita: ingin cepat tinggal menambah kecepatan. Apalagi motor relatif lebih fleksibel menghadapi kemacetan yang parah sekalipun.

Yang lebih parah, selain tidak aman dan nyaman, angkutan umum di Jakarta juga tidak terkoneksi satu sama lain. Contohnya halte busway yang tidak terhubung dengan jaringan stasiun kereta api yang notabene menjadi salah satu moda transportasi kaum pekerja dari sekeliling Jakarta.

Terlepas dari itu semua, saya termasuk yang masih optimis, pengendara sepeda motor, terutama dari masyarakat kelas menengah, akan bisa diajak beralih ke angkutan umum asalkan dua kelebihan utama yang dimiliki bisa disaingi: murah dan bebas macet. Tingginya angka kecelakaan yang melibatkan motor adalah salah satu yang menyadarkan saya, dan mungkin banyak juga yang lain, bahwa motor tidak aman. Saya yakin banyak yang naik motor karena keadaan yang memaksa. Masalahnya kemudian, mampukah pemerintah (bersama kita tentunya) mewujudkannya?

, , , ,

2 Komentar

Naik Kuda: Ternyata Tidak Mudah

Dulu saya, dan mungkin juga sebagian orang, menganggap naik kuda itu mudah dan menyenangkan. Kalau menyenangkan, pasti, tapi soal mudah, ternyata anggapan saya berubah seratus delapan puluh derajat begitu saya mencobanya sendiri.

Sebenarnya keinginan naik kuda ini sudah ada sejak saya masih kecil. Di kampung dulu, tetangga yang punya kuda untuk menarik dokar/andong, sekali-sekali menungganginya di jalanan depan rumah. Asyik juga, pikirku. Apalagi ketika melihat pacuan kuda yang dulu sering diadakan di tetangga desa setiap kali peringatan hari ABRI. Tapi keinginan tinggal keinginan, paling banter waktu itu hanyalah naik kerbau yang sedang digembala di sawah, itu pun kalau pemiliknya tidak keberatan.

Nah baru sekarang ketika sudah punya anak keinginan itu bisa terlaksana. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, menyenangkan anak sambil mencoba obsesi yang tertunda :).

Pertama kali mencoba beberapa bulan lalu waktu piknik kantor di Taman Matahari, Puncak. Dengan hanya 15 ribu, aku dan Aufa bisa naik kuda berkeliling lapangan yang luasnya sedikit lebih kecil dari lapangan bola.

Dan ternyata… naik kuda itu tidak gampang. Rasanya badan ini mau terhempas dari punggung kuda. Padahal kudanya hanya berjalan pelan sambil dituntun pemiliknya. Tangan yang seharusnya memegang tali kekang malah memegang erat-erat pelana karena takut jatuh.

Penasaran dengan pengalaman pertama, aktifitas ini kembali bisa terlaksana di taman dekat Carrefour (dulu Alfa) Bintaro Jaya yang kebetulan tidak begitu jauh dari rumah. Di sini tarifnya lebih murah, lima ribu untuk sekali berkeliling taman. Tiap Sabtu dan Minggu sore tempat ini menjadi taman hiburan keluarga yang ramai ditambah dengan kehadiran para penyedia kuda tunggang dan andong yang siap disewa.

Pengalaman kedua ini pun memberikan hasil yang tidak jauh berbeda, ternyata perasaan mau jatuh masih saja ada. Waktu itu aku masih bisa mencari pembenaran, mungkin perasaan ini muncul karena selain harus berkonsentrasi mengikuti gerakan kudanya aku juga harus memegang Aufa yang ada di depanku.

Penasaran dengan hal ini, putaran berikutnya aku coba naik sendirian, tanpa Aufa. Dan ternyata… sama saja. Aku sampai pada kesimpulan naik kuda itu tidak mudah, mungkin sedikit bisa disamakan dengan orang yang ingin bisa naik sepeda, harus belajar dulu.

Sekarang, karena sudah berani naik sendiri, setiap kali jalan-jalan sore tiap akhir pekan ke tempat itu Aufa malah minta untuk naik kuda. Abinya? Ya nanti kalau sudah punya peternakan dan kuda sendiri kayak di luar negeri bisa menunggang kuda sepuasnya. Insya Allah.

, , , , , , , ,

2 Komentar

Membeli Oven Tangkring

Ini pengalaman kami–aku, umminya Aufa dan tentu saja jagoan kecilku, Aufa–mencari oven di pasar Kebayoran Lama liburan Kamis kemarin, siapa tahu bisa bermanfaat bagi yang juga sedang mencari-cari alat pemanggang kue dan roti ini.

Kami sebut oven tangkring karena begitulah nama yang banyak diberikan di blog-blog yang sempat saya kunjungi untuk mendapatkan referensi harga sebelum membelinya. Bisa juga disebut oven kaleng, karena terbuat dari lembaran seng atau alumunium, atau oven kompor, karena cara menggunakannya ditangkringkan di atas kompor. Boleh jadi nama tangkring ini muncul karena posisinya yang harus ditangkringkan di atas kompor tadi.

Kami membelinya di lantai 2 pasar Kebayoran Lama, satu lantai dengan Ramayana departement store. Tadinya sempat ragu juga karena dari oven-oven yang dipajang tidak ada dari merek yang kami cari, Hock. Tapi setelah tanya-tanya ke penjualnya dia juga menyediakan oven yang kami maksud. Barangnya bisa diambil, katanya, asal harganya cocok. Tak apalah dicoba, pikir kami, karena selama ini susah juga untuk mendapatkan barang yang kami maksud.

Dari awal kami memang sudah menetapkan bahwa oven yang akan kami beli adalah oven Hock nomor 3 dengan model yang ada tempat arangnya di bagian atas. Alasan kami sederhana, merek ini sudah teruji kualitasnya karena dulu kami pernah memakai kompor minyaknya, kokoh dan anti karat karena bahannya tebal dan dari alumunium, dan yang juga penting, ada penunjuk suhunya. Lagi, kami juga pernah punya oven seperti ini yang terbuat dari seng, sehingga ada keinginan untuk meningkat tentunya :). Hal ini memudahkan kami ketika sampai di pasar, langsung terfokus pada barang yang mau dibeli.

Kohnya memberikan harga 300 sekian ribu untuk yang nomor 3 dan 200 sekian ribu untuk yang nomor 4, kami lupa tepatnya. Setelah kami tawar-tawar akhirnya dia mematok 270 ribu untuk nomor 3 dan 220 ribu untuk nomor 4. Sekali lagi setelah melalui proses tawar-menawar, akhirnya kami berhasil membawa oven yang kami idam-idamkan, oven Hock nomor 3 dengan model yang ada tempat arangnya di bagian atas, dengan harga 265 ribu.

Tambahan info per 24 April 2010:
Saya kuatir tempat beli oven ini termasuk lokasi yang terbakar pada peristiwa kebakaran pasar Kebayoran Lama belum lama ini, meskipun saya belum sempat kesana lagi sejak kabar kebakaran itu.

, , , , , , , , ,

1 Komentar

Menikmati Suasana Pedesaan di Mekarsari

Satu lagi tempat rekreasi keluarga di pinggiran Jakarta, Mekarsari. Taman buah yang pendiriannya digagas oleh mendiang Ibu Tien Suharto ini menawarkan aroma pedesaan yang kental.

Taman Buah Mekarsari, sumber: tentangkami.wordpress.com

Taman Buah Mekarsari, gambar dari tentangkami.wordpress.com


Harga karcis masuknya lima belas ribu per orang. Karena arealnya yang luas, pihak pengelola menyediakan kereta mini yang berjalan mengitari kebun-kebun buah yang ada. Untuk sekali naik dikenakan uang karcis sepuluh ribu rupiah per orang. Kalau naik kereta ini, kita akan diturunkan di pinggiran danau. Tepat di pinggir halte merupakan arena outbond dengan berbagai macam permainan khasnya. Di danau juga tersedia macam-macam permainan air seperti jetski, kano (perahu dayung), perahu tradisional, bola donat (itu lho balon raksana seperti donat yang mengambang di air, sori lupa apa nama kerennya) dan macam permainan lain.

Sudah lelah main di sini atau kita ingin suasana lain? Kita bisa kembali ke tempat kita naik kereta semula dengan menggunakan moda tranportasi yang sama. Untuk yang kedua kali ini kita tidak dipungut biaya.

Di bagian depan dekat dengan gerbang tersedia banyak wahana yang bisa dicoba. Salah satunya adalah family garden. Untuk masuk ke sini kita dikenai biaya sebesar tiga ribu rupiah (kalau tidak salah). Di sini kita bisa menikmati suasana kampung: areal persawahan, kebun, kandang-kandang ternak, lahan penanaman sayur, kerbau yang sedang mandi, kuda-kuda yang siap ditunggangi dan musium alat-alat pertanian tradisional. Di sini pun kita bisa menyaksikan praktik penanaman sayuran secara vertikal dalam wadah-wadah peralon yang dikombinasikan dengan kuda-kuda dari bambu.

Di sebelah family garden, tersedia wahana permainan anak-anak: bomb-bomb car, monorel, sepeda perahu yang dikayuh dengan tangan (untuk anak kecil), kereta mini dan lain sebagainya. Untuk masuk ke sini tidak ada biaya tambahan. Hanya untuk bisa menikmati setiap permainan kita harus membeli karcis. Tidak seperti permainan-permainan di pinggir danau yang agak mahal, di sini rata-rata satu koin lima ribu perak.

Sebelum pulang, tidak ada salahnya membawa oleh-oleh berupa buah-buahan, souvenir dan aneka bibit pohon buah yang dijual di sana. Sayangnya harga buah-buahan di sini lumayan mahal kalau dibandingkan harga di luar.

Satu lagi yang menjadi ganjalan, sebenarnya ada program seperti memetik buah-buahan dan belajar membuat jus markisa sendiri. Sayang acara ini mesti dikemas dalam program khusus yang bertarif lumayan mahal. Untuk tips saja, usahakan datang pada saat masih pagi, karena waktu itu kami datang pas matahari sedang terik-teriknya dan kayaknya kalau cuma setengah hari rasanya kurang untuk meng-explore semuanya.

Nah, bagaimana rute untuk ke sana? Kalau kami sih waktu itu berangkat dari Bintaro naik motor menyusuri Jalan TB Simatupang terus belok kanan di Pasar Rebo lewat Jalan Bogor Raya. Setelah melewati pabrik biskuit Khong Guan dan Indomilk nanti akan ada pertigaan, belok saja ke kiri (Jalan Cibubur Raya/Lapangan Tembak). Terus saja sampai ketemu Jalan Jambore di sebelah kanan (pertigaan). Ikuti terus Jalan Jambore sampai ketemu mall, naik ke atas jalan tol Jagorawi dan kita masuk ke Jalan alternatif Cibubur. Susuri terus jalan ini sampai kita ketemu flyover Cileungsi. Dari sini Mekarsari kira-kita tinggal dua sampai tiga kilometer lagi. Oh ya dari rumah kami ke sana spedometer menunjukkan kisaran angka antara 40 s.d. 45 km.

, , , , , , ,

3 Komentar

Berwisata Murah ke Kebun Anggrek

Mau jalan-jalan murah sambil menikmati eloknya taman anggrek? Mampirlah ke Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP) di TMII atau Taman Anggrek Ragunan. Insya Allah dijamin puas. Selain bisa menikmati eneka macam jenis anggrek, kita pun bisa membawa pulang anggrek yang kita sukai dengan harga yang tidak terlalu mahal.

Anggrek Bulan sumber: www.unila.ac.id

Anggrek Bulan sumber: http://www.unila.ac.id


TAIP terletak di komplek TMII, dekat Masjid At Tiin. Untuk bisa masuk kita dikenai ongkos karcis, tapi jangan kuatir karena murah banget (maaf saya lupa tepatnya).

Sama dengan TAIP, di TAR kita juga bisa jalan-jalan murah untuk menikmati anggrek, apalagi jaraknya dekat dengan Kebun Binatang Ragunan. Kita bisa mampir ke sini sehabis keliling kebun binatang. Kalau kita menghadap ke gerbang Ragunan, TAR terletak di sebelah kiri gerbang. Dari gerbang kira-kira 200 meteran.

Sayangnya (atau malah untungnya) kavling-kavling di TAR tidak eksklusif menjual anggrek saja. Banyak kavling, terutama di belakang, menjual berbagai tanaman hias jenis lain, seperti anthurium, aglounema dll.

Bagaimana soal harga? Di TAR, anggrek bulan hibrida lokal yang sedang berbunga dibandrol sekitar 40 ribuan, sedangkan yang tidak sedang berbunga kita bisa bawa pulang dengan merogoh kocek tak lebih dari 25 ribu. Untuk yang impor harganya sekitar 70 ribuan. Berbagai macam dendobrium dihargai sekitar 30 ribuan.

Berminat?

, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar

Hati-hati dengan Ukuran Besi Teralis

Pengalaman adalah guru yang sangat berharga, begitulah kata orang. Dalam postingan terdahulu: Pengalaman Memasang Teralis, saya sudah sampaikan bahwa saya pesan teralis dengan besi ukuran 12.

Nah, masalah baru timbul ketika iseng-iseng, beberapa hari setelah teralis terpasang, saya coba ukur lebar penampang besi yang dipakai. Ternyata lebar satu sisi besi kotak itu hanya…9 mm, ya 9 mm. Saya pun jadi bimbang. Jangan-jangan si abang teralis itu telah membodohi saya.

Saya pun ingat beberapa kali pernah mengamati harga besi di sebuah majalah tentang rumah. Harga besi untuk ukuran 10 mm sekitar 50 ribuan, sementara ukuran 12 mm sekitar 150 ribuan. Bertambah sajalah kecurigaan saya. Terbayang berapa keuntungan dengan mengganti besi yang seharusnya ukuran 12 menjadi 10.

Tapi saya ragu juga, karena saya pernah baca kalau besi yang ukurannya 10, umpamanya, bukan berarti ukuran riilnya 10 mm, pasti lebih kecil dari itu. Mau komplain? Tapi rasanya ukuran besi teralisku ini sama dengan besi yang aku pegang di bengkel kerja tempatku pesan dulu. Waktu itu, si tukang teralis sempat memperlihatkan contoh berupa sisa potongan besi yang diakuinya berukuran 12. Dan besi yang sekarang menjadi teralis rumahku ini sepertinya sama ukurannya dengan besi itu. Sebenarnya waktu itu dia sempat menawarkan untuk membawanya sebagai contoh. Sayangnya saya lupa membawanya.

Tapi…masak ukuran 12 berkurangnya jauh benar sampai jadi 9? Kalau 12 jadi 11 masihlah bisa ditolerir. Atau jangan-jangan ini seberarnya besi ukuran 10? Ah…pusing….

, , , , , , , , ,

2 Komentar