Fenomena akhir tahun anggaran

Sudah beberapa hari ini sampai sore ini (16/12) Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) di seluruh Nusantara punya gawe besar. Para pegawainya banyak begadang, bahkan sampai tidur di kantor.

Ini karena SPM (Surat Perintah Membayar, dokumen untuk pencairan dana, dibuat oleh Satuan Kerja) yang datang ke KPPN menumpuk.

Satu penyebabnya. Satuan Kerja (Satker, untuk mudahnya kantor-kantor pemerintah) atau departemen tidak disiplin dalam pengelolaan anggarannya. Pencairan dana yang seharusnya dilakukan sesuai dengan jadwal kegiatan yang ada, tetapi malah dilakukan sebagian besarnya di akhir tahun.

Kalau begini siapa yang dirugikan?

Pegawai yang telah bekerja keras (pegawai yang tidak kerja apa-apa tapi ikut kebagian tentu saja tidak)…. Karena honor (untuk kasus belanja pegawai) yang seharusnya dibayarkan bulanan atau ketika kegiatan selesai tetapi ditunda-tunda honornya sampai di penghujung tahun.

Rekanan…. Karena uang yang seharusnya dia terima setelah barang atau jasa diserahkan atau prestasi tertentu dari pekerjaan telah diselesaikan ditunda-tunda sampai titik akhir.

Perekonomian negara… Karena uang yang seharusnya sudah berputar dan menjadi katalis bagi pertumbuhan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Padahal semua asumsi angka-angka dalam perekonomian dibuat sedemikian rupa untuk mencapai target-target yang sudah ditetapkan.

Selain itu pencairan besar-besaran di penghujung tahun juga bisa menjadi indikasi…

Ketidakmampuan mengelola dana dan ketiadaan perencanaan… Karena seharusnya dana sudah ada peruntukannya dan punya jadwal pelaksanaan yang jelas, makanya tidak akan menumpuk di akhir tahun.

Pengeluaran fiktif… Sebenarnya tidak ada kegiatan tapi karena sayang kalau dana yang sudah dianggarkan tidak dipakai dan dicap tidak bisa mengelola dana, yang akibatnya muncul kekhawatiran dana tahun berikutnya akan dikurangi maka masing-masing berusaha bagaimana yang penting cair. Bikin kuitansi, kontrak bodong, dsb, dsb…

Nah lho….

, , , , , , , , ,

  1. #1 by syukriy on 12 Februari 2009 - 5:30 pm

    Fenoma akhir tahun ini bukanlah hal aneh, sejak dulu kala malah. Pada masa awal dilaksanakannya otonomi daerah sejak tahun 1974, fenomena kejar setoran untuk menghabiskan anggaran sudah berjalan, normal dan wajar…

    Dulu, karena APBD bersifat sentralistik, maka DPRD hanya berfungsi sebagai tukang stempel. Pemda menggunakan berbagai cara agar bisa menghabiskan anggaran karena jika tidak, Pemerintah Pusat akan memotong alokasi untuk Pemda. Nah, kalau sekarang motivasinya bukan itu, tapi untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Sehingga ada yang korupsi besar2an pada saat menjelang akhir tahun ini…

    Beberapa diskusi di blog saya (http://syukriy.wordpress.com) mendiskusikan juga fenomena ini. Ada ruang untuk penelitian terkait fenomena ini, misalnya dengan mengkaji lebih jauh mengapa ada perubahan APBD? Mengapa harus ada konsensus dan kesepakatan antara DPRD dan kepala daerah menjelang akhir tahun?

  2. #2 by Zidan Nadia on 30 Januari 2009 - 4:24 am

    Ada sesuatu yang salah dalam mekanisme pelaksanaan anggaran

    Sebelum dan sesudah reformasi keuangan (3 paket UU) tidak ada perubahan … ngga ada beda …

    Y=C+I+G+(X-M)
    fungsi G tidak berjalan optimal, padahal negara maju sekalipun sangat memandang penting fungsi G
    Apalagi negara berkembang?!?! Trus Y nya dapat dari mana … manipulasi … biar semua senang …

    Ayo buat kajian untuk merubah, masak sampai nanti pensiun, masih seperti ini …

    • #3 by muchrosidi on 10 Februari 2009 - 4:35 pm

      Ya mas, saya juga setuju untuk mengoptimalkan G (belanja pemerintah)-nya.
      Mengoptimalkan lho bukan memperbesar volumenya. Karena kalau memperbesar berarti kita akan ketiban utang lagi.

      Masih banyak hal yang bisa kita lakukan agar belanja pemerintah lebih optimal dan berkualitas. Artinya kita harus yakin bahwa anggaran yang sudah dialokasikan memang tepat sasaran dan tidak hanya mementingkan pertanggungjawaban administrasi saja. Jangan sampai pencairan anggarannya bagus, ternyata di lapangan menghasilkan kuitansi2 bodong. Hasil riilnya tidak ada.

      Dan saya tulis fenomena akhir tahun anggaran ini karena memang di titik inilah menurut saya banyak satker yang berpikiran “hanya” untuk menghabiskan anggaran (barangkali dianggap sudah menjadi jatahnya) tanpa memikirkan kualitas dari pengeluaran yang dia buat.

      Saya yakin kalau ini kita benahi, kualitas belanja pemerintah akan meningkat dan tidak perlu terus menerus ngemis-ngemis ke negara lain untuk nyari utangan baru sementara di sini uangnya bocor di sana-sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: