Naik Kuda: Ternyata Tidak Mudah

Dulu saya, dan mungkin juga sebagian orang, menganggap naik kuda itu mudah dan menyenangkan. Kalau menyenangkan, pasti, tapi soal mudah, ternyata anggapan saya berubah seratus delapan puluh derajat begitu saya mencobanya sendiri.

Sebenarnya keinginan naik kuda ini sudah ada sejak saya masih kecil. Di kampung dulu, tetangga yang punya kuda untuk menarik dokar/andong, sekali-sekali menungganginya di jalanan depan rumah. Asyik juga, pikirku. Apalagi ketika melihat pacuan kuda yang dulu sering diadakan di tetangga desa setiap kali peringatan hari ABRI. Tapi keinginan tinggal keinginan, paling banter waktu itu hanyalah naik kerbau yang sedang digembala di sawah, itu pun kalau pemiliknya tidak keberatan.

Nah baru sekarang ketika sudah punya anak keinginan itu bisa terlaksana. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, menyenangkan anak sambil mencoba obsesi yang tertunda :).

Pertama kali mencoba beberapa bulan lalu waktu piknik kantor di Taman Matahari, Puncak. Dengan hanya 15 ribu, aku dan Aufa bisa naik kuda berkeliling lapangan yang luasnya sedikit lebih kecil dari lapangan bola.

Dan ternyata… naik kuda itu tidak gampang. Rasanya badan ini mau terhempas dari punggung kuda. Padahal kudanya hanya berjalan pelan sambil dituntun pemiliknya. Tangan yang seharusnya memegang tali kekang malah memegang erat-erat pelana karena takut jatuh.

Penasaran dengan pengalaman pertama, aktifitas ini kembali bisa terlaksana di taman dekat Carrefour (dulu Alfa) Bintaro Jaya yang kebetulan tidak begitu jauh dari rumah. Di sini tarifnya lebih murah, lima ribu untuk sekali berkeliling taman. Tiap Sabtu dan Minggu sore tempat ini menjadi taman hiburan keluarga yang ramai ditambah dengan kehadiran para penyedia kuda tunggang dan andong yang siap disewa.

Pengalaman kedua ini pun memberikan hasil yang tidak jauh berbeda, ternyata perasaan mau jatuh masih saja ada. Waktu itu aku masih bisa mencari pembenaran, mungkin perasaan ini muncul karena selain harus berkonsentrasi mengikuti gerakan kudanya aku juga harus memegang Aufa yang ada di depanku.

Penasaran dengan hal ini, putaran berikutnya aku coba naik sendirian, tanpa Aufa. Dan ternyata… sama saja. Aku sampai pada kesimpulan naik kuda itu tidak mudah, mungkin sedikit bisa disamakan dengan orang yang ingin bisa naik sepeda, harus belajar dulu.

Sekarang, karena sudah berani naik sendiri, setiap kali jalan-jalan sore tiap akhir pekan ke tempat itu Aufa malah minta untuk naik kuda. Abinya? Ya nanti kalau sudah punya peternakan dan kuda sendiri kayak di luar negeri bisa menunggang kuda sepuasnya. Insya Allah.

, , , , , , , ,

  1. #1 by tri priyatmo on 31 Agustus 2012 - 10:01 am

    kok beda,, aku pertama naik kuda gampang banget mas,,, naik kuda lumping.. hehehhe…

  2. #2 by dinoyudha on 3 Agustus 2009 - 6:42 pm

    Family Gathering di Taman Matahari ya mas? Oh, naik kuda yang di Sektor 7 itu ya.. hehe

    Saya mah udah pernah nyoba, cuma waktu itu dalam posisinya mas Aufa.. :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: