Motor: Kenapa Menjadi Favorit di Jakarta

Ini cerita untuk pertama kalinya aku harus pulang dari kantor naik KRL.

Ceritanya, hari itu adalah hari pertama masuk kantor setelah liburan bersama lebaran kemarin. Terpaksa sore itu aku tidak bisa naik motor seperti biasanya. Tentu saja, karena pagi tadi kan dari stasiun Gambir langsung ke kantor. Malas ke rumah dulu meskipun waktu subuh masih lama dan masih cukup waktu untuk pulang ke rumah. Perlu jalan kira-kira lima puluh kilometer bolak-balik dari stasiun ke rumah kemudian balik lagi ke kantor. Padahal, seperti pagi tadi, mungkin tak lebih dari tiga kilometer dari stasiun ke kantor. Itu pun karena jalannya muter-muter.

Sebenarnya ada dua moda transportasi yang bisa aku pilih: bus dan kereta api. Untuk hari biasa, tentu bus kota adalah alternatif kedua. Bisa dipastikan waktu tempuh akan menjadi sangat lama karena harus bermacet-macet ria di jalan. Untuk hari itu sebenarnya tidak ada masalah, Jakarta masih relatif sepi, karena sepertinya pegawai-pegawai swasta masih belum selesai cuti bersamanya. Akhirnya aku putuskan untuk naik kereta dari Tanah Abang.

Perjalanan dimulai dari halte busway Pecenongan. Setelah berganti bus di Harmoni, aku turun di halte BI, dilanjutkan dengan bus kota sampai ke perempatan Jatibaru. Aku dan orang-orang yang mau ke stasiun harus turun sebelum bus naik ke fly over sehabis perempatan itu. Jadilah kita harus berjalan kaki. Hitung-hitung olahraga, apalagi kita memang harus berjalan cepat supaya tidak ketinggalan kereta.

Sesampai di stasiun aku langsung naik ke lantai dua (karena stasiunnya memang di atas) untuk membeli tiket KRL express yang sebentar lagi akan berangkat. Tak lama setelah turun ke peron, kereta yang akan membawaku pulang datang juga. Benar dugaanku, Jakarta memang belum begitu ramai. Di stasiun, di kereta, belum begitu banyak manusia, paling tidak kalau aku bandingkan dengan pengalamanku waktu masih CPNS dan setia menjadi roker (rombongan kereta) di rute yang sama sekitar tahun 2001-2002 selepas lulus dari kampus waktu itu, meskipun kali ini aku juga harus berdiri. Tak apalah, toh perjalanan ke stasiun Pondok Ranji juga hanya melewati dua stasiun: Palmerah dan Kebayoran.

Sepertinya sholat maghrib baru saja usai begitu kereta tiba di Pondok Ranji. Perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki 300-an meter sampai ke perempatan Bintaro Plaza, sekali lagi hitung-hitung olah raga (atau ngirit). Dari situ aku naik angkot sampai ke sektor 6 (Bintaro Jaya). Turun dari angkot, sebenarnya rumah tinggal kira-kira 300-400 meter, tapi karena capek dan ingin cepat sampai, jadilah aku naik ojek, padahal di rumah juga sendirian, karena keluarga masih di kampung.

Mari kita berhitung berapa biaya yang diperlukan untuk perjalanan tadi. Busway tiga ribu lima ratus, bus kota dua ribu, KRL express delapan ribu, angkot dua ribu, terakhir ojek tiga ribu. Total delapan belas ribu lima ratus rupiah. Kalau kita anggap jalan pulang-perginya sama maka ongkos pergi pulang ke kantor menjadi tiga puluh tujuh ribu rupiah satu hari. Padahal biasanya kalau naik motor, rata-rata dua hari sekali hanya mengisi bensin senilai tak lebih dari empat belas ribu rupiah. Berarti sehari rata-rata butuh ongkos tujuh ribu rupiah. Kalau dinaiki dua orang berarti sehari hanya butuh tiga ribu lima ratus rupiah . Bandingkan dengan perhitungan naik kereta tadi, tiga puluh tujuh ribu rupiah, tentu jauh sekali dengan ongkos naik motor yang hanya tiga ribu lima ratus rupiah seorang.

Sengaja aku tidak masukkan ongkos-ongkos yang harus dikeluarkan untuk membiayai kepemilikan motor: ongkos servis, penggantian spare part, dan lain-lain, apalagi penyusutan (!!!). Ini semata-mata untuk mempermudah perhitungan. Bukankah secara psikologis kita juga akan merasakan dampak langsung hanya dari pengeluaran yang sifatnya harian?

Ternyata pengalaman sekali ini memang membawa hikmah yang besar sekali. Aku menjadi mudah memahami mengapa katanya pertumbuhan motor di Jakarta mencapai 300 persen setahun, dan akan menimbulkan kesemrawutan di Jakarta kalau dibiarkan.

Logis dan masuk akal kalau kecenderungan ini akan terus meningkat selama kebijakan transportasi di Jabodetabek tidak dibenahi besar-besaran. Tidak hanya soal ongkos yang sangat jauh lebih murah, baik harga belinya (ingat dengan hanya berapa ratus ribu kita bisa membawa motor keluaran terbaru dari dealer) maupun ongkos operasionalnya (lihat perhitungan tadi), orang lebih memilih naik motor juga karena alasan-alasan mendasar lain.

Pernahkah Anda merasakan sangat dongkol karena angkutan umum, yang biasanya melaju dengan ugal-ugalan, melaju dengan sangat pelan karena penumpang sepi, bahkan mungkin lebih cepat jika kita jalan kaki. Giliran penumpang ramai, sama saja, jalanan juga macet. Dengan kondisi ini sangat sulit bagi kita untuk mengatur waktu. Bayangkan, jika kita memakai motor, kita bisa lebih memperkirakan waktu tempuh karena manajemen waktu ada di tangan kita: ingin cepat tinggal menambah kecepatan. Apalagi motor relatif lebih fleksibel menghadapi kemacetan yang parah sekalipun.

Yang lebih parah, selain tidak aman dan nyaman, angkutan umum di Jakarta juga tidak terkoneksi satu sama lain. Contohnya halte busway yang tidak terhubung dengan jaringan stasiun kereta api yang notabene menjadi salah satu moda transportasi kaum pekerja dari sekeliling Jakarta.

Terlepas dari itu semua, saya termasuk yang masih optimis, pengendara sepeda motor, terutama dari masyarakat kelas menengah, akan bisa diajak beralih ke angkutan umum asalkan dua kelebihan utama yang dimiliki bisa disaingi: murah dan bebas macet. Tingginya angka kecelakaan yang melibatkan motor adalah salah satu yang menyadarkan saya, dan mungkin banyak juga yang lain, bahwa motor tidak aman. Saya yakin banyak yang naik motor karena keadaan yang memaksa. Masalahnya kemudian, mampukah pemerintah (bersama kita tentunya) mewujudkannya?

, , , ,

  1. #1 by tri priyatmo on 31 Agustus 2012 - 9:55 am

    sama, lebih baik naek motor,, manajemen waktu ada di kita, itu yg terpenting… pernah 1 bulan pertama di jakarta, naik busway,, rute pecenongan-harmoni-cempaka putih…. di halte harmoni minta ampun rata2 ngantri berdiri 1\2 sd 1 jam… jadi pul kantor jam 17.. sampai hampir jam 19 mlm ( 2 jam)… sekarang naek montor cuman 45 menit…

  2. #2 by Naga212Geni on 18 Juli 2010 - 3:35 am

    Info yang menarik Bro, Semakin lengkap infonya maka akan semakin baik pula situs ini. Salam kenal dari 212. Ditunggu kunjungan balasannya ke situsku : http:// naga212geni.blogspot.com Terimakasih. Melanjutkan Blogwalking dulu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: